loading...

Minggu, 19 Maret 2017

KISAH INSPIRATIF WARGA BINAAN LAPAS PEKALONGAN

JUARA II LOMBA PENULISAN CERITA UNIK DAN KEMANUSIAAN KATEGORI WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN Rahmat Hidayat bin Zairan (Lapas Klas IIA Pekalongan)




Dua tahun sudah kejadian penangkapan saya, mungkin baru kali ini saya berhasil untuk mengungkapkan dari apa yang saya lihat saya dengar dan saya rasakan memang terasa lama, malas lagi untuk mengingat-ingat kembali kejadian pahit yang saya rasakan selama saya di penjara tapi saya mencoba untuk menguasai tinta dan kertas serta mengumpulan huruf demi huruf agar tersusun kata-kata yangmampu menjadikan pelajaran hidup untuk saya pribadi. Saya sekarang seorang napi dan saya berbicara dengan perasaan saya sebagai napi. Awalnya saya tidak pernah percaya bahwa saya akan menyandang status napi tapi jabatan ini telah bertahta di diri saya selama dua tahun sudah. Jelas bahwa dengan apa yang saya hadapi malam itu, ketika kepolisian mendapatkan  satu satu paketan ganja hasil dari pengeledahan saya, seketika itu juga saya merasa memikul beban yang sangat berat sekali. Pertanyaan- pertanyaan menggumpal jadi satu dalam pikiran, bagaimana nasib anak dan istri? Bagaimana tentang pekerjaan? Bagaimana tanggapan keluarga? Susunan pertanyaan itulah menggambarkan betapa gundahnya hati saya. Apa yang saya rasakan waktu begitu lama dan saya rasakan makin tak stabil keadaan jiwa saya, ketika saya harus mendekam di ruang tertutup menunggu waktu  waktu untuk pemeriksaan esok pagi, proses pendataan BAP pun berjalan lancar tanpa ada hambatan sedikitpun dan pada akhirnya jam 17.00 WIB saya di pindahkan ke lantai dua untuk menjadi tahanan Polres selama dua bulan. Hari-hari terasa kacau waktu itu, pernah seketika saya mendengar tangisan bayi dari layar TV yang berada di ruang penjagaan, seketika itu juga air mata saya mengalir  karena teringat akan bayi kecil saya di rumah. Mungkin saya tidak harus menceritakan tentang kesedihan bagaimana saya dihantui rasa rindu yang teramat sangat akan anak dan bagaimana saya harus kehilangan pekerjaan yang seharusnya saya lakukan untuk menafkahi keluarga kecil saya. Tapi inilah kenyataan hidup dampak dari pergaulan buruk yang harus saya jalani karena saya yakin satu hal ketika seseorang memiliki nasibnya apapun itu tidak ada pilihan kecuali mengikutinya dan menerimanya. Keadaan saya sudah agak mulai stabil di bulan kedua di awal penangkapan saya. Saya masih ingat sekali nama saya disebut untukdipindahkan ke Rutan Cipinangkarena memang sudah waktunya saya meninggalkan Polres pada hari kamis pagi di bulan September 2012. Matahari semakin meninggi, cuaca panaspun semakin terasa didalam mobil yang tak ber-AC dengan tangan dan kaki terantai. Mobil dengan lambat terus menyusuri jalan menju Rutan Cipinang dengan keadaan perut yang lapar dan rasa haus yang mencekik tenggorokan ditambah dengan kemacetan Jakarta lengkap sudah penderitaan saya sebagai orang yang bermasalah di negara ini. Akhirnya rombongan operan saya  sampai juga di Rutan Cipinang pada sore hari jam 16.40 WIB. Mata sayapun memandang penuh cemas, takut merasa kembali seperti awal saya tertangkap. Proses pendataanpun berjalan begitu lama hingga akhirnya saya pun mendapat giliran untuk didata di bagaian registrasi. Laksana penjahat kelas kakap saya diambil gambar dengan memegang papan nama, ini sungguh di luar cita–cita saya ketika masih kecil. Jam dinding menunjuk pukul 20.00 WIB, pendataan pun akhirnya selesai juga. “Apa kalian sudah mengerti peraturan-peraturan yang diberlakukan disini,“ tanya petugas dengan perawakan tinggi. Kami pun hanya bilang, “Sudah Pak!“ “Baiklah, cepat ratakan barisan lalukalian jongkok semua untuk menuju tempat penampungan.” Pernah suatu ketika saya mendapatkan kunjungan. Ini hari membahagiakan yang saya rasakan dari sekian banyakhari di masa–masa  penangkapan saya. Sayapun berjumpa dengan anak istri yang datang jauh dari Tegal, Jawa Tengah.Mereka memang sudah memutuskan untuk pindah ke kampung halamannya dari bulan pertama  saya tertangkap dengan alasan karena sudah tidak ada lagi ada yang memberikan nafkah untuk mereka tinggal dan bertahan hidup di Jakarta. Pertemuan saya dengan anak istri cukup terkesan karena tidak ada tangisan dan tidak ada kesedihan. Saya tahu istri  saya adalah wanita paling kuat dalam menghadapi masalah.Namun tiba-tiba pertanyaan kecil pun terlontar dari mulut saya, “Anaknya sekarang dikasih susu apa Bun?” “Bunda cuma kasih dia teh manis.”, kata istriku datar. Sayapun terdiam sejenak menelan ludah. “Kalau makannya Bunda kasih dia apa?” “Bunda cuma cukupbuatin bubur aja setiap hari.”Saya pun hanya bisa tertunduk lesu. “Kenapa Ayah sedih?” “Nggak sedih kok Bun,” kata saya sambil menatap istri. “Ayah jangan bohong, mata ayah tuh berair,” kata istri saya sambil memandangi saya begitu lama. Pada saat itu ada satu perkataan yang keluar dari mulut istri saya yang membuat saya masih merasa kuat sampaihari ini. “Allah itu memberikan kesengsaraan di dunia itu nggak abadi Yah, beda dengan Allah memberi kesengsaraan nanti di akhirat.“ Setelah selesai dia mengucapkan kata–kata dahsyat itu, lalu saya raih jemarinya.“Terima kasih sayang.” Suasanapun berubah menjadi hangat kembali ditambah dengan tingkah laku balita saya yang tidak bisa diam pada saat itu.Sayapun mulai sedikit demi sedikit belajar mengisi hari dengan keikhlasan dengan menerima segala sesuatunya. Tanpa disadari ternyata saya sudah melewati pergantian banyak hari tapi tetap saja saya masih berdiam diri. Tak banyak yang sayalakukan dan saya masih ingat betul sampai hari ini kebiasaan saya adalah duduk sendiri dipinggir taman sambil ditemani sebatang rokok. Saya harus mengingat–ingat kembali ketika saya masih di luar hal apa yang saya lakukan hingga membuat saya di titik kehidupan yang rendah ini. Narkoba menurut saya hanya perantara untuk mengantarkan saya sampai ketempat ini. Ternyata ada yang lebih kuat lagi peristiwa yang mengantarkan saya sampai disini. Seketika itu saya ingat akan satu hal dimana sebelum tertangkap, ada satu kebiasaan saya selepas pulang kerja yaitu selalu menyempatkan diri untuk menghentikan motor pada waktu maghrib tepat di depan masjid            jalan TB Simatupang. Ketika adzan berkumandang saya selalu berkata, ”Enak sekali orang– orang yang diberi kesempatan untuk mengerjakan sholat dirumah Allah.” Kata – kataitulah yang saya ucapkan setiap kali saya berada di depan masjid. Saya baru sadar inilah yang mengantarkan saya hingga sampai ketempat seperti ini. Saya fikir tidak mengambil roh dari jiwa saya tapi Tuhan mengambil sebagian hak saya agar saya berfikir bahwamakhluknya pasti diperhatikan oleh-Nya. Jujur ketika diluar sana saya sama sekali tidak menjalankan kewajiban saya sebagai muslim, yang saya pentingkan adalah urusan–urusan dunia. Tapi saya bingung harus memulai darimana agar saya bisa dekat dengan Tuhan. Beberapa bulan pun berlalu, saya masih tetap saja cari ide untukmendekati Tuhan, hingga akhirnya saya memiliki kemauan untuk pindahke Lapas yang berada di daerah. Bagi saya, kemana saja tidak masalah yang penting ke daerah walaupun sebenarnya saya tidak tahu di daerah itu lebih nyaman atau tidak untuk saya pribadi. Di awal bulan Februari 2013 saya memberanikan diriuntuk mendaftar ke bagian registrasi untuk di pindah ke Lapas yang berada di daerah. Entah kekuatan dari mana keyakinan saya begitu besar untuk pindah ke daerah dengan harapan saya menemukan sesuatu yang saya cari. Waktupun berlalu dengan begitu cepat, akhirnya di bulan April 2013 ada juga operan untukke daerah Pekalongan, Jawa Tengah. Tidak ada rasa takut atauragu ketika akhirnya nama saya disebut untuk dipindah ke Lapas Pekalongan. Kawan satu kamarpun memberikan semangat dengan kepergian saya. “Hati – hati ya Bos!”, kata mereka. Saya pun hanya bisa tersenyum sambil berkata, “Saling mendoakan saja bos.” Kemudian kami dikumpulkan diruang kunjungan untuk diberangkatkan ke Lapas Pekalongan. Proses itu berjalan agak lama karena ada prosedur dan peraturan–perturan  yangharus dipatuhi. Pada jam 20. 30 WIB akhirnya tiba pemberangkatan. Seperti biasa tangan dan kaki harus di rantai satu per satu  untuk kemudian naik ke mobil dinas. Mobilpun meluncur ketempat yang dituju. Perjalanan ke Pekalongan memakan waktu yang cukup lama sampai berjam – jam tak ada jatah makan dan minum bahkan harus menahan kencing. Akupun bergumam, “Ya ampun!, tapi tidak apa–apa ini kan bukan berangkat tur wisata.” Akhirnya jam 08.00 WIB mobil yang saya tumpangi sampai di depan Lapas Klas IIA Pekalongan. Suasana pedesaan masih kental terasa sekali ditempat ini. Petugas yang ramah–ramah menyambut kedatangan saya. Ada satu petugas bilang dengan sedikit logat jawa, “Operan dari Jakarta napinya kok  putih–putih ya!” Saya sendirihanya bisa senyum–senyum aja. Seperti biasa segala peraturan- peraturan yang berlaku dijelaskan saat itu. Kamipun memperhatikan dengan seksama walaupun terkadang mata saya melihat ke kanan dan ke kiri. Entah kenapa saat itu saya merasa tenang sekali hingga tidak ada pertanyan – pertanyaan yangmengganggu dikepala. Seminggu sudah saya berada di Lapas Pekalongan. Jujur saya sangat menikmati suasana disini karena kebebasan saya memandang langittak terhalang dengan tembok tinggi. Banyaknya kolam-kolam ikan menambah kentalnya suasana pedesaan di Lapas ini dan petugas-petugasnya cukup ramah sehingga membuat saya betah tinggal disini. Tentu saja ini satu kejutan di minggu pertama saya menghuni Lapas, saya dapat bertemu anak dan istri  lagi. Kerinduan saya terasa terobati sudah, apagi ketika saya melihat putra semata wayang yang sudah bisa berjalan. Senangnya saya saat itu tidak bisa diungkapkan dengan apapun karena memang kami sudah berpisah untuk waktu yang cukup lama. Pertanyaan yang sama pun terlontar dari mulut saya ketika itu, “Bagaimana kabar anak kita sekarang, Bun?” “Seperti yang ayah lihat, dia tumbuh sehat.” “Terus bagaimana dengan susu dia?” “Bunda sekali lagi memberi dia susu kalau ada rejeki, tetapi apapun yang bunda berikan dia itu lebih dari susu nilai gizinya.” “Iya sayang,” istri saya pun tersenyum sambil mengusap kepala anak saya.Saya juga ikut tersenyum. Waktu pertemuan ini tidak kami buang sia–sia.Kemudian saya bercerita kelucuan–kelucuan yang saya rasakan selama didalam penjara. Kehangatan keluarga kecil saya sangat terasa sekali disini. Saya yakin bahwa cinta lebih kuat walaupun berada di perbatasan. Perjalanan kehidupan saya disini harus terus berlanjut.Suatu ketika diakhir bulan Mei 2013 situasi memang agak sedikit  berbeda karena Lapas Pekalongan banjir. Waktu itu saya sedang menikmati nonton siaran televisi di aula blok III, tiba-tiba ada warga binaan yang berkata kepada saya,“Mas lebih baik ke masjid daripada nonton TV.“ Saya tidak begitu peduli dengan ucapan itu. Lagipula saya tidak kenal dengan orang itu. Tapi dihari kemudian saya KO karena sakit. Saya ingat terus dengan kata–kata itu dan pada akhirnya saya membuka diri untuk pergi ke masjid.Kemudian kegiatan itu akhirnya menjadi rutinitas saya untuk mengisi waktu.Sayapun kemudian diterima dengan baik menjadi seorang santri di Pondok Pesantren Darul Ulum Lapas Pekalongan. Kegiatan ponpes memang menjadi program pembinaan andalan di Lapas sampai sekarang. Satu tahun sudah saya berada di Lapas ini. Saat ini saya juga masih aktif menjadi santri. Banyak sekali ilmu –ilmu agama yang saya dapat hingga membuat saya termotivasi untuk lebih berhati–hati dalam bertindak dan berfikir. Bagi saya ini adalah sebuah pengalaman yang membuat saya kaya hati. Ternyata Tuhan melihat dan menunggu saya dari balik jendela masjid di jalan TB Simatupang hingga akhirnya Dia memberikan pembelajaran hidup yang sangat berharga untuk saya saat ini. Sumber : www.ditjenpas.go.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar