Hasil karya kreatif Warga Binaan Pemasyarakatan Lapas IIA Pekalongan
Kreativitas bisa tumbuh di mana saja. Bahkan di balik keterbatasan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pekalongan, Warga Binaannya dapat terus mengembangkan kreativitas. Dengan proses pembinaan kemandirian dan fasilitas yang memadai, proses kreatif itu ditunjukkan oleh para Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) melalui aneka karya nyata berupa kerajinan tangan dan keterampilan lainnya.
Pembinaan Kemandirian
Melalui aneka pelatihan, Lapas Kelas IIA Pekalongan mendidik warga binaan agar menjadi manusia seutuhnya, menyadari kesalahan, memperbaiki diri dan tidak mengulangi tindak pidana. Bentuk pelatihan antara lain: menjahit, perkayuan, perikanan, pertanian, pertenunan, kerajinan, dan cuci motor & mobil.
Kelas Inspirasi
Kelas Inspirasi adalah perpaduan pembinaan kepribadian dan pembinaan kemandirian untuk meningkatkan kreativitas sehingga setelah bebas nanti WBP memiliki bekal yang cukup untuk hidup mandiri. Kegiatan Kelas Inspirasi antara lain menulis kreatif, kewirausahaan kreatif, membatik.
Hasil karya Warga Binaan Pemasyarakatan
Salah satu hasil karya WBP Lapas kelas IIA pekalongan yang menjadi unggulan adalah Tong serbaguna atau Kepala Lapas Kelas IIA Pekalongan, Bapak M, Hilal biasa menyebutnya TONG MAGIC. Kegunaan Tong Magic ini sangat banyak, bisa untuk tempat baju-baju kotor, tempat payung, juga tempat sampah. Keunggulan lain tong magic adalah tampilannya yang sangat menarik, karena telah diberi gambar tokoh kartun/animasi, dan berbagai macam corak batik. Dan semua itu dikerjakan oleh WBP yang saat ini menghuni di LAPAS Kelas IIA Pekalongan.
Pemasaran Hasil karya Warga Binaan Pemasyarakatan
Dan baru-baru ini, Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia bersama Kementerian Perindustrian menandatangani nota kesepahaman tentang peningkatan pembinaan dan bimbingan kemandirian bagi Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP).
Penandatanganan dilaksanakan, Senin (28/7) di Ruang Garuda Lantai 2 Gedung Kemenperin, Jalan Gatot Subroto. Kedepannya Kemenperin akan membantu WBP untuk membuat kemasan yang bagus dan menarik atas hasil karya-karya kerajinan tangan saat dipasarkan.
“Supaya karya kerajinan tangan para WBP dapat menarik perhatian pasar. Sehingga kemasan kerajinan tangan menjadi lebih kompetitif saat bersaing di pasar,” kata Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pemasyarakatan, Ma’mun.
Kemudian, lanjutnya, akan disinergikan dan difasilitasi juga bagaimana cara menjual produk tersebut melalui pemasaran secara online. Sebab, pasar online dan e-commerce sedang meningkat dalam beberapa tahun belakangan ini di Indonesia.
“Kemenperin akan ada memberikan pelatihan khusus bagaimana cara mengemas bungkusan, desain lebih menarik dan menghitung kalkulasi menjual karya yang dibuat di pasar online,” terang Ma’mun.
Dalam acara ini, Sekretaris Jenderal Kemenkumham, Bambang Rantam Sariwanto, mewakili Menteri Yasonna Hamonangan Laoly saat menandatangani nota kesepahaman bersama Menteri Perindustrian Airlangga Hartartp mengatakan, kerja sama antar dua kementerian bertujuan untuk sebagai landasan kerja sama dalam rangka melaksanakan pembinaan kemandirian WBP.
Adapun ruang lingkup kerja sama antara Kemenkumham dan Kemenperin meliputi 3 hal, pertama pelatihan keterampilan WBP, kedua promosi hasil karya WBP, dan ketiga bantuan peralatan atau mesin bagi WBP dari Kemenperin.
ELPASKAL BISA
Dengan adanya nota kesepahaman ini, semoga Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Pekalongan (ELPASKAL) dibawah kepemimpinan Kepala LAPAS, Bapak M. HILAL (DEN KALONG) bisa semakin maju. Terutama dalam pebinaan kreatifitas WBP. SEMOGA.
loading...
Senin, 28 Agustus 2017
Jumat, 31 Maret 2017
APEL SIAGA DI LAPAS KLAS IIA PEKALONGAN
Pada hari Jumat tanggal 31 Maret 2017, bertempat di lapangan LAPAS
Klas IIA Pekalongan dilaksanakan Apel Siaga Kami Kerja PASTI Bersih
Melayani. Kegiatan ini di ikuti oleh pegawai seluruh Kemenkumham
se-eks Karesidenan Pekalongan dengan Pembina Apel Kalapas
Pekalongan, M. Hilal. Apel Siaga ini juga dihadiri Wakil Walikota
Pekalongan dan ForkopimdaKota Pekalongan.

Dalam amanatnya Kalapas Pekalongan sebagai Pembina Apel membacakan
sambutan Menkumham. Dalam sambutannya Menkumham mengatakan,
“Sebagai institusi penegak hukum, kita wajib melakukanpembenahan melalui
upaya reformasi hukum dengan melakukan pemberantasan pungli dan
peredaran gelap narkotika agar menjadikan pemerintah yang bersih, jujur,
adil, serta meningkatkan kemajuan bangsa dan negara bidang hukum
dengan melakukan pembenahan secara nyata terhadap persoalan-
persoalan yang saat ini membelenggu jajaran Pemasyarakatan”.
Persoalan-persoalan tersebut timbul karena rendahnya integritas petugas
pemasyarakatan. Untuk itu, melalui apel siaga dan deklarasi 'Kami Kerja,
Pasti Bersih Melayani' ini saya mengajak dan mengingatkan kembali
kepada seluruh jajaran pemasyarakatan untuk segera berbenah diri,
meningkatkan integritas, serta menyatukan tekad
yang bulat dalam melawan peredaran narkotika dan penyimpangan
lainnya,".
Lebih lanjut, Menkumham berpesan agar petugas Pengaman Pintu Utama
(Petugas P2U) untuk menggeledah secara konsisten kepada siapa pun
dan apapun yang melewati pintu utama, serta memastikan alat
komunikasi pengunjung dan petugas disimpan di dalam loker yang telah
disediakan.
Apel ini digelar dalam upaya memberantas segala bentuk penyimpangan,
terutama terhadap narkoba dan pungli, yang sering terjadi di lapas.
Di akhir sambutannya Menkumham menekankan perlunya semua elemen
pemasyarakatan terutama Lapas dan Rutan untuk melakukan pembenahan
melalui reformasi hukum dan terus meningkatkan integritas.
Selain Apel Siaga, kegiatan lain yang dilakukan adalah penandatanganan
kerjasama antara LAPAS Pekalongan dengan sejumlah instansi dalam
rangka peningkatan kinerja lapas/rutan, khususnya terkait keamanan dan
pengamanan, seperti KODIM 0710, POLRES Pekalongan Kota, Kantor
Kementrian Agama Pekalongan dan BNN Kabupaten Batang.

Klas IIA Pekalongan dilaksanakan Apel Siaga Kami Kerja PASTI Bersih
Melayani. Kegiatan ini di ikuti oleh pegawai seluruh Kemenkumham
se-eks Karesidenan Pekalongan dengan Pembina Apel Kalapas
Pekalongan, M. Hilal. Apel Siaga ini juga dihadiri Wakil Walikota
Pekalongan dan ForkopimdaKota Pekalongan.

Dalam amanatnya Kalapas Pekalongan sebagai Pembina Apel membacakan
sambutan Menkumham. Dalam sambutannya Menkumham mengatakan,
“Sebagai institusi penegak hukum, kita wajib melakukanpembenahan melalui
upaya reformasi hukum dengan melakukan pemberantasan pungli dan
peredaran gelap narkotika agar menjadikan pemerintah yang bersih, jujur,
adil, serta meningkatkan kemajuan bangsa dan negara bidang hukum
dengan melakukan pembenahan secara nyata terhadap persoalan-
persoalan yang saat ini membelenggu jajaran Pemasyarakatan”.
Persoalan-persoalan tersebut timbul karena rendahnya integritas petugas
pemasyarakatan. Untuk itu, melalui apel siaga dan deklarasi 'Kami Kerja,
Pasti Bersih Melayani' ini saya mengajak dan mengingatkan kembali
kepada seluruh jajaran pemasyarakatan untuk segera berbenah diri,
meningkatkan integritas, serta menyatukan tekad
yang bulat dalam melawan peredaran narkotika dan penyimpangan
lainnya,".
Lebih lanjut, Menkumham berpesan agar petugas Pengaman Pintu Utama
(Petugas P2U) untuk menggeledah secara konsisten kepada siapa pun
dan apapun yang melewati pintu utama, serta memastikan alat
komunikasi pengunjung dan petugas disimpan di dalam loker yang telah
disediakan.
Apel ini digelar dalam upaya memberantas segala bentuk penyimpangan,
terutama terhadap narkoba dan pungli, yang sering terjadi di lapas.
Di akhir sambutannya Menkumham menekankan perlunya semua elemen
pemasyarakatan terutama Lapas dan Rutan untuk melakukan pembenahan
melalui reformasi hukum dan terus meningkatkan integritas.
Selain Apel Siaga, kegiatan lain yang dilakukan adalah penandatanganan
kerjasama antara LAPAS Pekalongan dengan sejumlah instansi dalam
rangka peningkatan kinerja lapas/rutan, khususnya terkait keamanan dan
pengamanan, seperti KODIM 0710, POLRES Pekalongan Kota, Kantor
Kementrian Agama Pekalongan dan BNN Kabupaten Batang.

Rabu, 29 Maret 2017
PEMBINAAN WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN
Keberhasilan pelayanan dan pembinaan Warga Binaan Pemasyarakatan
(WBP) terletak kepada ketepatan petugas pemasyarakatan dalam menerap
kan sistem pembinaan WBP yang edukatif dan komunikatif.
Sebagai abdi negara dan abdi masyarakat petugas pemasyarakatan wajib
menghayati serta mengamalkan tugas-tugas pembinaan pemasyarakatan
dengan penuhtanggung jawab. Untuk melaksanakan kegiatan pembinaan
pemasyarakatan yang berdaya guna, tepat guna dan berhasil guna,
petugas pemasyarakatan harus memiliki kemampuan profesional dan
integritas moral.
Pembinaan terhadap warga binaan pemasyarakatan disesuaikan dengan
asas-asas yang terkandung dalam pancasila, undang-undang dasar 1945,
yang tercermin dalam 10 prinsip pemasyarakatan, yaitu :
1. Ayomi dan berikan bekal hidup agar WBP dapat menjalankan peranan
sebagai warga masyarakatyang baik dan berguna.
2. Penjatuhan pidana bukan tindakan balas dendam oleh negara
3. Berikan bimbingan bukan penyiksaan supaya WBP bertobat.
4. Negara tidak berhak membuat WBP menjadi lebih buruk atau lebih
jahat daripada sebelum dijatuhi pidana.
5. Selama kehilangan kemerdekaan bergerak, WBP harus dikenalkan
dengan dan tidak boleh diasingkan dari masyarakat.
6. Pekerjaan yang diberikan kepada WBP tidak boleh bersifat sekedar
mengisi waktu.
7. Bimbingan dan didikan yang diberikan kepada WBP harus berdasarkan
Pancasila.
8. WBP sebagai orang-orang yang tersesat adalah manusia, dan mereka
harus diperlakukan sebagai manusia.
9. WBP hanya dijatuhi pidana hilang kemerdekaan sebagai satu-satunya
derita yang dapat dialaminya.
10.Disediakan dan dipupuk sarana-sarana yang dapat mendukung fungsi
rehabilitatif, kolektif dan edukatif dalam sistem Pemasyarakatan.
Dalam rangka menumbuhkan rasa kesungguhan, keikhlasan dan tanggung
jawab dalam melaksanakan tugas serta menanamkan kesetiaan, ketaatan
dan keteladanan di dalam pengabdian terhadap negara, hukum dan
masyarakat, petugas pemasyarakatan perlu memiliki kode prilaku dan
dirumuskan dalam bentuk ETOS KERJA yang isinya:
1. KAMI PETUGAS PEMASYARAKATAN ADALAH ABDI HUKUM,
PEMBINA WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN DAN
PENGAYOM MASYARAKAT.
2. KAMI PETUGAS PEMASYARAKATAN WAJIB BERSIKAP
BIJAKSANA DAN BERTINDAK ADIL DALAM MELAKSANAKAN
TUGAS.
3. KAMI PETUGAS PEMASYARAKATAN BERTEKAD MENJADI SURI
TAULADAN DALAM MEWUJUD TUJUAN SISTEM PEMASYARA-
KATAN YANG BERDASAR PANCASILA.
Fungsi dan tugas pembinaan pemasyarakatan terhadap Warga Binaan
Pemasyarakatan dilaksanakan secara terpadu dengan tujuan agar mereka
setelah selesai menjalani pidana, pembinaan dan bimbingannya dapat
menjadi warga masyarakat yang baik.
Dengan berpedoman kepada prinsip dan etos kerja pemasyarakatan maka
petugas pemasyarakatan diharapkan dapat menerapkan metode pendekatan
yang terbaik dalam melaksanakan pembinaan, sehingga dengan potensi
yang terbatas bisa dicapai hasil yang seoptimal mungkin.
Pada dasarnya pemasyarakatan adalah suatu proses pembinaan wbp, itu
sama artinya dengan menyembuhkan seseorang yang sementara tersesat
hidupnya karena adanya kelemahan-kelemahan yang dimilikinya.
Maka dari itu pembinaan dan bimbingan pemasyarakatan harus
ditingkatan melalui pendekatan pembinaan mental (agama, pancasila
dan sebagainya) meliputi pemulihan harga diri sebagai pribadi maupun
sebagai warga negara yang menyakini dirinya masih memiliki potensi
produktif bagi pembangunan bangsa dan oleh karena itu WBP dilatih dan
dididik untuk menguasai ketrampilan tertentu guna dapat hidup mandiri
dan berguna bagi pembangunan.
Dan yang terpenting dari semuanya, diharapkan setelah selesai menjalani
hukuman, mereka bisa kembali ke masyarakat dan tidak mengulangi
perbuatannya. SEMOGA.
(WBP) terletak kepada ketepatan petugas pemasyarakatan dalam menerap
kan sistem pembinaan WBP yang edukatif dan komunikatif.
Sebagai abdi negara dan abdi masyarakat petugas pemasyarakatan wajib
menghayati serta mengamalkan tugas-tugas pembinaan pemasyarakatan
dengan penuhtanggung jawab. Untuk melaksanakan kegiatan pembinaan
pemasyarakatan yang berdaya guna, tepat guna dan berhasil guna,
petugas pemasyarakatan harus memiliki kemampuan profesional dan
integritas moral.
Pembinaan terhadap warga binaan pemasyarakatan disesuaikan dengan
asas-asas yang terkandung dalam pancasila, undang-undang dasar 1945,
yang tercermin dalam 10 prinsip pemasyarakatan, yaitu :
1. Ayomi dan berikan bekal hidup agar WBP dapat menjalankan peranan
sebagai warga masyarakatyang baik dan berguna.
2. Penjatuhan pidana bukan tindakan balas dendam oleh negara
3. Berikan bimbingan bukan penyiksaan supaya WBP bertobat.
4. Negara tidak berhak membuat WBP menjadi lebih buruk atau lebih
jahat daripada sebelum dijatuhi pidana.
5. Selama kehilangan kemerdekaan bergerak, WBP harus dikenalkan
dengan dan tidak boleh diasingkan dari masyarakat.
6. Pekerjaan yang diberikan kepada WBP tidak boleh bersifat sekedar
mengisi waktu.
7. Bimbingan dan didikan yang diberikan kepada WBP harus berdasarkan
Pancasila.
8. WBP sebagai orang-orang yang tersesat adalah manusia, dan mereka
harus diperlakukan sebagai manusia.
9. WBP hanya dijatuhi pidana hilang kemerdekaan sebagai satu-satunya
derita yang dapat dialaminya.
10.Disediakan dan dipupuk sarana-sarana yang dapat mendukung fungsi
rehabilitatif, kolektif dan edukatif dalam sistem Pemasyarakatan.
Dalam rangka menumbuhkan rasa kesungguhan, keikhlasan dan tanggung
jawab dalam melaksanakan tugas serta menanamkan kesetiaan, ketaatan
dan keteladanan di dalam pengabdian terhadap negara, hukum dan
masyarakat, petugas pemasyarakatan perlu memiliki kode prilaku dan
dirumuskan dalam bentuk ETOS KERJA yang isinya:
1. KAMI PETUGAS PEMASYARAKATAN ADALAH ABDI HUKUM,
PEMBINA WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN DAN
PENGAYOM MASYARAKAT.
2. KAMI PETUGAS PEMASYARAKATAN WAJIB BERSIKAP
BIJAKSANA DAN BERTINDAK ADIL DALAM MELAKSANAKAN
TUGAS.
3. KAMI PETUGAS PEMASYARAKATAN BERTEKAD MENJADI SURI
TAULADAN DALAM MEWUJUD TUJUAN SISTEM PEMASYARA-
KATAN YANG BERDASAR PANCASILA.
Fungsi dan tugas pembinaan pemasyarakatan terhadap Warga Binaan
Pemasyarakatan dilaksanakan secara terpadu dengan tujuan agar mereka
setelah selesai menjalani pidana, pembinaan dan bimbingannya dapat
menjadi warga masyarakat yang baik.
Dengan berpedoman kepada prinsip dan etos kerja pemasyarakatan maka
petugas pemasyarakatan diharapkan dapat menerapkan metode pendekatan
yang terbaik dalam melaksanakan pembinaan, sehingga dengan potensi
yang terbatas bisa dicapai hasil yang seoptimal mungkin.
Pada dasarnya pemasyarakatan adalah suatu proses pembinaan wbp, itu
sama artinya dengan menyembuhkan seseorang yang sementara tersesat
hidupnya karena adanya kelemahan-kelemahan yang dimilikinya.
Maka dari itu pembinaan dan bimbingan pemasyarakatan harus
ditingkatan melalui pendekatan pembinaan mental (agama, pancasila
dan sebagainya) meliputi pemulihan harga diri sebagai pribadi maupun
sebagai warga negara yang menyakini dirinya masih memiliki potensi
produktif bagi pembangunan bangsa dan oleh karena itu WBP dilatih dan
dididik untuk menguasai ketrampilan tertentu guna dapat hidup mandiri
dan berguna bagi pembangunan.
Dan yang terpenting dari semuanya, diharapkan setelah selesai menjalani
hukuman, mereka bisa kembali ke masyarakat dan tidak mengulangi
perbuatannya. SEMOGA.
Senin, 27 Maret 2017
Aku Malu Oleh: Dhedi R Ghazali
Aku malu Pada hamba-hambaMu di balik jeruji besi itu
Aku bahkan merasa lebih hina dari mereka dari mereka para penikmat dinding-
dinding penjara
Setiap 5 waktu mereka menemui-Mu
Selalu saja dalam barisan-barisan
Sedangkan aku kerap sendirian
Rela mereka sisakan sepertiga malam
Sedang sepertiga malamku hanyut dalam mimpiku
Ikhlas mereka selipkan waktu kala fajar
Sedang fajarku termakan kesibukanku
Tak henti mereka panjatkan ayat-ayat suci
Sedang ayat-ayat suci ku tersungkur di lemari-lemari berdebu
Sungguh aku malu!!!
Yogya, 12 Desember 2013
Aku bahkan merasa lebih hina dari mereka dari mereka para penikmat dinding-
dinding penjara
Setiap 5 waktu mereka menemui-Mu
Selalu saja dalam barisan-barisan
Sedangkan aku kerap sendirian
Rela mereka sisakan sepertiga malam
Sedang sepertiga malamku hanyut dalam mimpiku
Ikhlas mereka selipkan waktu kala fajar
Sedang fajarku termakan kesibukanku
Tak henti mereka panjatkan ayat-ayat suci
Sedang ayat-ayat suci ku tersungkur di lemari-lemari berdebu
Sungguh aku malu!!!
Yogya, 12 Desember 2013
Jumat, 24 Maret 2017
SEPULUH PRINSIP PEMASYARAKATAN
1. Ayomi dan berikan bekal hidup agar mereka dapatmenjalankan peranan sebagai warga masyarakat yang baik dan berguna.
2. Penjatuhan pidana bukan tindakan balas dendam oleh negara
3. Berikan bimbingan bukan penyiksaan supaya mereka bertobat.
4. Negara tidakberhak membuat mereka menjadi lebih buruk atau lebih jahat daripada sebelum dijatuhi pidana.
5. Selama kehilangan kemerdekaan bergerak, para narapidan dan anak didik harus dikenalkan dengan dan tidak boleh diasingkan dari masyarakat
6. Pekerjaan yang diberikan kepada narapidana dan anak didik tidak boleh bersifat sekedar mengisi waktu.
7. Bimbingan dan didikan yang diberikan kepada narapidana dan anak didik harus berdasarkan Pancasila.
8. Narapidana dan anak didik sebagai orang-orang yang tersesat adalah manusia, dan mereka harus diperlakukan sebagai manusia.
9. Narapidana dan anak didik hanya dijatuhi pidana hilang kemerdekaan sebagai satu-satunya derita yang dapat dialaminya.
10. Disediakan dan dipupuk sarana-sarana yang dapat mendukung fungsi rehabilitatif, kolektif dan edukatif dalam sistem Pemasyarakatan.
Minggu, 19 Maret 2017
Henky Tupanwael, Anak Kolong yang Terjerumus Jadi Garong
Henky Tupanwael dilahirkan di Ende, Flores, 17 Agustus 1932. Ayahnya, Jacob Mathias Tupanwael, adalah seorang anggota Koninklijk Nederlandsche Indische Lager (KNIL). Henky kecil tumbuh di dunia anak kolong yang keras. Di zaman kolonial, anak-anak kolong dari KNIL Ambon kerap diidentikkan dengan kegarangan. Pada tanggal 22 Agustus 1944, taktala (Kusni) Kasdut masih berkelana di terminal bis sebagai anak haram, Henky sudah menyelesaikan satu tugas kriminal ketika dia menembak mati seorang polisi militer dengan pistol dan ditangkap, ditahan dan dipenjarakan di penjara anak-anak di Tangerang,” tulis Daniel Dhakidae dalam Menerjang Badai Kekuasaan (2016).
Tahun 1944 menjadi tahun-tahun sulit bagi keluarga eks KNIL Ambon karena tekanan bala tentara Jepang yang mengusai Indonesia sejak 1942 hingga 1945. Polisi Militer di zaman itu adalah polisi militer Jepang yang disebut Kenpeitai yang terkenal kejam.
Siapapun yang coba-coba melawan militer Jepang, mereka tak segan untuk membunuh. Jika benar pembunuhan itu dilakukan tahun 1944, seperti ditulis Daniel, kira-kira Henky melakukan sesuatu yang mirip dilakukan Supriyadi dalam Pemberontakan PETA Blitar: membunuhi orang Jepang. Belakangan, Supriyadi dinyatakan hilang dan Henky hanya dipenjara.
Tapi, penjara tak membuat kehidupan Henky menjadi lebih baik. Kejahatan Henky semakin menjadi jadi setelahnya. “Pada tahun 1957, ketika berumur 25 tahun, kejahatannya mulai meningkat dengan merampok Bank Ekonomi Nasional di Bandung,” tulis Daniel. Untuk kejahatannya itu, Henky diganjar 4 tahun 6 bulan.
Seperti halnya Kusni Kasdut, legenda residivis yang sezaman dengannya, Henky juga terbiasa melarikan diri dari penjara. Penjara-penjara di zaman Orde Lama punya banyak celah untuk kabur, bagi orang-orang macam Henky Tupanwael atau Kusni Kasdut.
Henky kabur di tahun 1963, dari penjara Banceuy, Bandung. Di luar penjara, Henky menggila. Tak tanggung-tanggung, rumah seorang hakim di Bandung dia satroni dalam misi sebuah penggarongan. Tentu saja aparat hukum mengejarnya dan menangkapnya. Setelahnya, Henky dikirim ke Nusakambangan. Penjara ini dianggap sebagai Alcatraz-nya Indonesia. Hanya segelintir orang saja yang bisa kabur dari pulau tersebut dengan selamat. Semestinya Henky harus mendekam di sana 11 tahun. Namun, penjara sesangar apapun rupanya tak mampu mengisolasinya. Tak sampai setahun, dia kabur. Dia berenang menyeberangi Segara Anakan untuk mencapai Jawa. Karena menyebrangi dua pulau itu bukan hal mudah, nama Henky pun jadi makin sohor dan melegenda. Henky termasuk segelintir orang yang bisa kabur dari penjara tersangar di Indonesia itu.
Jonny Sembiring, juga mantan residivis, juga mengenal Henky ketika di penjara. Dalam Johnny Sembiring: antara Tembok dan Tuhan (1987), ia bercerita soal Henky. “Pakaian yang melekat di badannya hanya sepotong celana dalam,” kata Jonny.
Di Jakarta, sekabur dari Nusakambangan, Henky kembali bergabung dengan teman-temannya. Dia merampok Bank Nusantara, yang membuatnya meraup uang berjumlah Rp21 juta lebih. Dalam aksinya itu, dua orang terbunuh. Henky kemudian tertangkap, namun berhasil kabur lagi selama 13 hari. Henky diringkus kembali di Tanah Abang, Jakarta.
Setelahnya Henky tak kabur lagi. Pada 1966, Henky diadili. Hakim persidangan bernama Thamrin Manan, yang menghakimi Henky sendirian tanpa disertai anggota majelis hakim. Ketika dibawa ke ruang sidang, para penjaga yang menggiring Henky rupanya lupa membawa kunci borgol yang mengekang tangan Henky. Padahal, Thamrin berprinsip sidang tak akan berjalan dengan terdakwa yang diborgol. Demi kelancaran sidang, Henky pun mendemonstrasikan "kemampuan sulapnya": melepas sendiri borgolnya tanpa kunci di muka pengadilan.
Di hari itulah vonis mati dijatuhkan buat si anak kolong. Setelah sidang itu, di tahun 1969, Hakim Thamrin mundur dari profesinya dan menjadi pengacara di Jakarta.
Henky tak dipenjarakan di Nusakambangan lagi menjelang eksekusi matinya. Dia dibui di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, penjara yang memungkinkan Henky kabur. Namun, dia tak kabur.
“Bagi anak saya, melarikan diri dari penjara sesuatu yang mudah,” kata pendeta Jacob Mathias Tupanwael kepada jurnalis Tempo di awal tahun 1980, di Bandung. Ketika itu, ia baru pulang menjenguk Henky. Tak lupa Jacob mengancam: “Bila melarikan diri, (dari penjara terakhir) yang menembak bukan polisi, tapi saya sendiri, ayahnya.”
Di mata Jacob, Henky adalah anak penurut, baik hati, periang, dan suka menolong. Hasil jarahannya tak dimakan sendiri. Mirip Robin Hood. Kata sang ayah, dia pernah ikut menyumbangkan uangnya untuk kegiatan sosial. Di rumah, Henky tentu bisa diarahkan sayang ayah, tapi tidak di luar rumah. “Lingkungan pergaulannya di luar ternyata menyebabkan Henky jadi orang jahat,” kata Jacob, “kelemahan saya, sebagai ayah, tidak tahu dengan siapa ia bergaul.”Sejak usia belasan tahun, Henky sudah tidak di rumah. Dia lebih banyak menghabiskan masa mudanya di penjara, sehingga ia berkawan dengan orang-orang yang kehidupannya suram. Selain soal kenekatan dan hal-hal terkait aksi kriminal, Henky juga belajar ilmu kebal di dalam penjara. Bahkan, tanah di tiang eksekusi tembaknya pun dipenuhi daun kelor yang dianggap sebagai penangkal ilmu kebalnya.
Menjelang hukuman matinya, menurut sang ayah, Henky sudah bertobat selama belasan tahun. Sebelum dieksekusi, Henky mengucapkan ini kepada petugas penjara: “Bila orang mencapai surga dengan kebaikan, biarlah saya mencapai dengan jalan kejahatan.”
Akhirnya, Henky menghadap regu tembaknya pada pada 5 Januari 1980. Ia dijemput dari selnya subuh pukul empat. Berkemeja dengan kancing yang salah terpasang dan beralaskan sandal jepit, tubuh Henky nan gempal diikatkan di tiang, matanya ditutup kain merah. Tubuhnya roboh di bumi beralaskan daun kelor setelah diterjang peluru-peluru regu tembak.(tirto.id - pet/msh)
Tahun 1944 menjadi tahun-tahun sulit bagi keluarga eks KNIL Ambon karena tekanan bala tentara Jepang yang mengusai Indonesia sejak 1942 hingga 1945. Polisi Militer di zaman itu adalah polisi militer Jepang yang disebut Kenpeitai yang terkenal kejam.
Siapapun yang coba-coba melawan militer Jepang, mereka tak segan untuk membunuh. Jika benar pembunuhan itu dilakukan tahun 1944, seperti ditulis Daniel, kira-kira Henky melakukan sesuatu yang mirip dilakukan Supriyadi dalam Pemberontakan PETA Blitar: membunuhi orang Jepang. Belakangan, Supriyadi dinyatakan hilang dan Henky hanya dipenjara.
Tapi, penjara tak membuat kehidupan Henky menjadi lebih baik. Kejahatan Henky semakin menjadi jadi setelahnya. “Pada tahun 1957, ketika berumur 25 tahun, kejahatannya mulai meningkat dengan merampok Bank Ekonomi Nasional di Bandung,” tulis Daniel. Untuk kejahatannya itu, Henky diganjar 4 tahun 6 bulan.
Seperti halnya Kusni Kasdut, legenda residivis yang sezaman dengannya, Henky juga terbiasa melarikan diri dari penjara. Penjara-penjara di zaman Orde Lama punya banyak celah untuk kabur, bagi orang-orang macam Henky Tupanwael atau Kusni Kasdut.
Henky kabur di tahun 1963, dari penjara Banceuy, Bandung. Di luar penjara, Henky menggila. Tak tanggung-tanggung, rumah seorang hakim di Bandung dia satroni dalam misi sebuah penggarongan. Tentu saja aparat hukum mengejarnya dan menangkapnya. Setelahnya, Henky dikirim ke Nusakambangan. Penjara ini dianggap sebagai Alcatraz-nya Indonesia. Hanya segelintir orang saja yang bisa kabur dari pulau tersebut dengan selamat. Semestinya Henky harus mendekam di sana 11 tahun. Namun, penjara sesangar apapun rupanya tak mampu mengisolasinya. Tak sampai setahun, dia kabur. Dia berenang menyeberangi Segara Anakan untuk mencapai Jawa. Karena menyebrangi dua pulau itu bukan hal mudah, nama Henky pun jadi makin sohor dan melegenda. Henky termasuk segelintir orang yang bisa kabur dari penjara tersangar di Indonesia itu.
Jonny Sembiring, juga mantan residivis, juga mengenal Henky ketika di penjara. Dalam Johnny Sembiring: antara Tembok dan Tuhan (1987), ia bercerita soal Henky. “Pakaian yang melekat di badannya hanya sepotong celana dalam,” kata Jonny.
Di Jakarta, sekabur dari Nusakambangan, Henky kembali bergabung dengan teman-temannya. Dia merampok Bank Nusantara, yang membuatnya meraup uang berjumlah Rp21 juta lebih. Dalam aksinya itu, dua orang terbunuh. Henky kemudian tertangkap, namun berhasil kabur lagi selama 13 hari. Henky diringkus kembali di Tanah Abang, Jakarta.
Setelahnya Henky tak kabur lagi. Pada 1966, Henky diadili. Hakim persidangan bernama Thamrin Manan, yang menghakimi Henky sendirian tanpa disertai anggota majelis hakim. Ketika dibawa ke ruang sidang, para penjaga yang menggiring Henky rupanya lupa membawa kunci borgol yang mengekang tangan Henky. Padahal, Thamrin berprinsip sidang tak akan berjalan dengan terdakwa yang diborgol. Demi kelancaran sidang, Henky pun mendemonstrasikan "kemampuan sulapnya": melepas sendiri borgolnya tanpa kunci di muka pengadilan.
Di hari itulah vonis mati dijatuhkan buat si anak kolong. Setelah sidang itu, di tahun 1969, Hakim Thamrin mundur dari profesinya dan menjadi pengacara di Jakarta.
Henky tak dipenjarakan di Nusakambangan lagi menjelang eksekusi matinya. Dia dibui di Pamekasan, Madura, Jawa Timur, penjara yang memungkinkan Henky kabur. Namun, dia tak kabur.
“Bagi anak saya, melarikan diri dari penjara sesuatu yang mudah,” kata pendeta Jacob Mathias Tupanwael kepada jurnalis Tempo di awal tahun 1980, di Bandung. Ketika itu, ia baru pulang menjenguk Henky. Tak lupa Jacob mengancam: “Bila melarikan diri, (dari penjara terakhir) yang menembak bukan polisi, tapi saya sendiri, ayahnya.”
Di mata Jacob, Henky adalah anak penurut, baik hati, periang, dan suka menolong. Hasil jarahannya tak dimakan sendiri. Mirip Robin Hood. Kata sang ayah, dia pernah ikut menyumbangkan uangnya untuk kegiatan sosial. Di rumah, Henky tentu bisa diarahkan sayang ayah, tapi tidak di luar rumah. “Lingkungan pergaulannya di luar ternyata menyebabkan Henky jadi orang jahat,” kata Jacob, “kelemahan saya, sebagai ayah, tidak tahu dengan siapa ia bergaul.”Sejak usia belasan tahun, Henky sudah tidak di rumah. Dia lebih banyak menghabiskan masa mudanya di penjara, sehingga ia berkawan dengan orang-orang yang kehidupannya suram. Selain soal kenekatan dan hal-hal terkait aksi kriminal, Henky juga belajar ilmu kebal di dalam penjara. Bahkan, tanah di tiang eksekusi tembaknya pun dipenuhi daun kelor yang dianggap sebagai penangkal ilmu kebalnya.
Menjelang hukuman matinya, menurut sang ayah, Henky sudah bertobat selama belasan tahun. Sebelum dieksekusi, Henky mengucapkan ini kepada petugas penjara: “Bila orang mencapai surga dengan kebaikan, biarlah saya mencapai dengan jalan kejahatan.”
Akhirnya, Henky menghadap regu tembaknya pada pada 5 Januari 1980. Ia dijemput dari selnya subuh pukul empat. Berkemeja dengan kancing yang salah terpasang dan beralaskan sandal jepit, tubuh Henky nan gempal diikatkan di tiang, matanya ditutup kain merah. Tubuhnya roboh di bumi beralaskan daun kelor setelah diterjang peluru-peluru regu tembak.(tirto.id - pet/msh)
Wacana Lapas Pekalongan Jadi Tempat Wisata
ANTARA JATENG - Lembaga Pemasyarakatan Kelas II/A Kota Pekalongan, Jawa Tengah, menggagas destinasi wisata sejarah di lapas untuk mendukung program pemerintah kota setempat sebagai anggota jejaring Kota Kreatif Dunia bidang kerajinan dan seni rakyat.
Kepala Lapas Kelas II/A Kota Pekalongan Hilal di Pekalongan, Selasa, mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan persiapan dan mengumpulkan benda-benda bersejarah yang pernah ada di lapas.
"Saat ini, kami masih mencari jejak dan barang milik Ki Hajar Dewantoro yang dulu pernah menghuni penjara Pekalongan," katanya.
Selain itu, kata dia, lapas juga mulai menata benda-benda kuno, seperti meja dan kursi di beberap sudut ruangan tunggu dan ruang kerja.
"Untuk mendukung nuansa kuno, penulisan nama ruangan di setiap pintu masuk juga akan menggunakan ejaan lama," katanya.
Ketua Badan Promosi Pariwisata Kota Pekalongan Cucut Suranto mengatakan penggagasan lapas sebagai destinasi wisata baru itu relatif cukup tepat karena memiliki bangunan cagar budaya bernilai sejarah.
"Itu cukup tepat dan ada potensi destinasi wisata ini ditawarkan pengunjung untuk melihat secara dekat terhadap cagar budaya di lingkungan lapas," katanya.
Ia mengatakan dengan adanya destinasi wisata baru di Lapas Pekalongan akan menambah daya tarik daerah bagi pengunjung yang ingin mengetahui suasana di dalam penjara zaman dahulu.
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2017
Kepala Lapas Kelas II/A Kota Pekalongan Hilal di Pekalongan, Selasa, mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan persiapan dan mengumpulkan benda-benda bersejarah yang pernah ada di lapas.
"Saat ini, kami masih mencari jejak dan barang milik Ki Hajar Dewantoro yang dulu pernah menghuni penjara Pekalongan," katanya.
Selain itu, kata dia, lapas juga mulai menata benda-benda kuno, seperti meja dan kursi di beberap sudut ruangan tunggu dan ruang kerja.
"Untuk mendukung nuansa kuno, penulisan nama ruangan di setiap pintu masuk juga akan menggunakan ejaan lama," katanya.
Ketua Badan Promosi Pariwisata Kota Pekalongan Cucut Suranto mengatakan penggagasan lapas sebagai destinasi wisata baru itu relatif cukup tepat karena memiliki bangunan cagar budaya bernilai sejarah.
"Itu cukup tepat dan ada potensi destinasi wisata ini ditawarkan pengunjung untuk melihat secara dekat terhadap cagar budaya di lingkungan lapas," katanya.
Ia mengatakan dengan adanya destinasi wisata baru di Lapas Pekalongan akan menambah daya tarik daerah bagi pengunjung yang ingin mengetahui suasana di dalam penjara zaman dahulu.
Editor: Mahmudah
COPYRIGHT © ANTARA 2017
KISAH INSPIRATIF WARGA BINAAN LAPAS PEKALONGAN
JUARA II LOMBA PENULISAN CERITA UNIK DAN KEMANUSIAAN KATEGORI WARGA BINAAN PEMASYARAKATAN Rahmat Hidayat bin Zairan (Lapas Klas IIA Pekalongan)
Dua tahun sudah kejadian penangkapan saya, mungkin baru kali ini saya berhasil untuk mengungkapkan dari apa yang saya lihat saya dengar dan saya rasakan memang terasa lama, malas lagi untuk mengingat-ingat kembali kejadian pahit yang saya rasakan selama saya di penjara tapi saya mencoba untuk menguasai tinta dan kertas serta mengumpulan huruf demi huruf agar tersusun kata-kata yangmampu menjadikan pelajaran hidup untuk saya pribadi. Saya sekarang seorang napi dan saya berbicara dengan perasaan saya sebagai napi. Awalnya saya tidak pernah percaya bahwa saya akan menyandang status napi tapi jabatan ini telah bertahta di diri saya selama dua tahun sudah. Jelas bahwa dengan apa yang saya hadapi malam itu, ketika kepolisian mendapatkan satu satu paketan ganja hasil dari pengeledahan saya, seketika itu juga saya merasa memikul beban yang sangat berat sekali. Pertanyaan- pertanyaan menggumpal jadi satu dalam pikiran, bagaimana nasib anak dan istri? Bagaimana tentang pekerjaan? Bagaimana tanggapan keluarga? Susunan pertanyaan itulah menggambarkan betapa gundahnya hati saya. Apa yang saya rasakan waktu begitu lama dan saya rasakan makin tak stabil keadaan jiwa saya, ketika saya harus mendekam di ruang tertutup menunggu waktu waktu untuk pemeriksaan esok pagi, proses pendataan BAP pun berjalan lancar tanpa ada hambatan sedikitpun dan pada akhirnya jam 17.00 WIB saya di pindahkan ke lantai dua untuk menjadi tahanan Polres selama dua bulan. Hari-hari terasa kacau waktu itu, pernah seketika saya mendengar tangisan bayi dari layar TV yang berada di ruang penjagaan, seketika itu juga air mata saya mengalir karena teringat akan bayi kecil saya di rumah. Mungkin saya tidak harus menceritakan tentang kesedihan bagaimana saya dihantui rasa rindu yang teramat sangat akan anak dan bagaimana saya harus kehilangan pekerjaan yang seharusnya saya lakukan untuk menafkahi keluarga kecil saya. Tapi inilah kenyataan hidup dampak dari pergaulan buruk yang harus saya jalani karena saya yakin satu hal ketika seseorang memiliki nasibnya apapun itu tidak ada pilihan kecuali mengikutinya dan menerimanya. Keadaan saya sudah agak mulai stabil di bulan kedua di awal penangkapan saya. Saya masih ingat sekali nama saya disebut untukdipindahkan ke Rutan Cipinangkarena memang sudah waktunya saya meninggalkan Polres pada hari kamis pagi di bulan September 2012. Matahari semakin meninggi, cuaca panaspun semakin terasa didalam mobil yang tak ber-AC dengan tangan dan kaki terantai. Mobil dengan lambat terus menyusuri jalan menju Rutan Cipinang dengan keadaan perut yang lapar dan rasa haus yang mencekik tenggorokan ditambah dengan kemacetan Jakarta lengkap sudah penderitaan saya sebagai orang yang bermasalah di negara ini. Akhirnya rombongan operan saya sampai juga di Rutan Cipinang pada sore hari jam 16.40 WIB. Mata sayapun memandang penuh cemas, takut merasa kembali seperti awal saya tertangkap. Proses pendataanpun berjalan begitu lama hingga akhirnya saya pun mendapat giliran untuk didata di bagaian registrasi. Laksana penjahat kelas kakap saya diambil gambar dengan memegang papan nama, ini sungguh di luar cita–cita saya ketika masih kecil. Jam dinding menunjuk pukul 20.00 WIB, pendataan pun akhirnya selesai juga. “Apa kalian sudah mengerti peraturan-peraturan yang diberlakukan disini,“ tanya petugas dengan perawakan tinggi. Kami pun hanya bilang, “Sudah Pak!“ “Baiklah, cepat ratakan barisan lalukalian jongkok semua untuk menuju tempat penampungan.” Pernah suatu ketika saya mendapatkan kunjungan. Ini hari membahagiakan yang saya rasakan dari sekian banyakhari di masa–masa penangkapan saya. Sayapun berjumpa dengan anak istri yang datang jauh dari Tegal, Jawa Tengah.Mereka memang sudah memutuskan untuk pindah ke kampung halamannya dari bulan pertama saya tertangkap dengan alasan karena sudah tidak ada lagi ada yang memberikan nafkah untuk mereka tinggal dan bertahan hidup di Jakarta. Pertemuan saya dengan anak istri cukup terkesan karena tidak ada tangisan dan tidak ada kesedihan. Saya tahu istri saya adalah wanita paling kuat dalam menghadapi masalah.Namun tiba-tiba pertanyaan kecil pun terlontar dari mulut saya, “Anaknya sekarang dikasih susu apa Bun?” “Bunda cuma kasih dia teh manis.”, kata istriku datar. Sayapun terdiam sejenak menelan ludah. “Kalau makannya Bunda kasih dia apa?” “Bunda cuma cukupbuatin bubur aja setiap hari.”Saya pun hanya bisa tertunduk lesu. “Kenapa Ayah sedih?” “Nggak sedih kok Bun,” kata saya sambil menatap istri. “Ayah jangan bohong, mata ayah tuh berair,” kata istri saya sambil memandangi saya begitu lama. Pada saat itu ada satu perkataan yang keluar dari mulut istri saya yang membuat saya masih merasa kuat sampaihari ini. “Allah itu memberikan kesengsaraan di dunia itu nggak abadi Yah, beda dengan Allah memberi kesengsaraan nanti di akhirat.“ Setelah selesai dia mengucapkan kata–kata dahsyat itu, lalu saya raih jemarinya.“Terima kasih sayang.” Suasanapun berubah menjadi hangat kembali ditambah dengan tingkah laku balita saya yang tidak bisa diam pada saat itu.Sayapun mulai sedikit demi sedikit belajar mengisi hari dengan keikhlasan dengan menerima segala sesuatunya. Tanpa disadari ternyata saya sudah melewati pergantian banyak hari tapi tetap saja saya masih berdiam diri. Tak banyak yang sayalakukan dan saya masih ingat betul sampai hari ini kebiasaan saya adalah duduk sendiri dipinggir taman sambil ditemani sebatang rokok. Saya harus mengingat–ingat kembali ketika saya masih di luar hal apa yang saya lakukan hingga membuat saya di titik kehidupan yang rendah ini. Narkoba menurut saya hanya perantara untuk mengantarkan saya sampai ketempat ini. Ternyata ada yang lebih kuat lagi peristiwa yang mengantarkan saya sampai disini. Seketika itu saya ingat akan satu hal dimana sebelum tertangkap, ada satu kebiasaan saya selepas pulang kerja yaitu selalu menyempatkan diri untuk menghentikan motor pada waktu maghrib tepat di depan masjid jalan TB Simatupang. Ketika adzan berkumandang saya selalu berkata, ”Enak sekali orang– orang yang diberi kesempatan untuk mengerjakan sholat dirumah Allah.” Kata – kataitulah yang saya ucapkan setiap kali saya berada di depan masjid. Saya baru sadar inilah yang mengantarkan saya hingga sampai ketempat seperti ini. Saya fikir tidak mengambil roh dari jiwa saya tapi Tuhan mengambil sebagian hak saya agar saya berfikir bahwamakhluknya pasti diperhatikan oleh-Nya. Jujur ketika diluar sana saya sama sekali tidak menjalankan kewajiban saya sebagai muslim, yang saya pentingkan adalah urusan–urusan dunia. Tapi saya bingung harus memulai darimana agar saya bisa dekat dengan Tuhan. Beberapa bulan pun berlalu, saya masih tetap saja cari ide untukmendekati Tuhan, hingga akhirnya saya memiliki kemauan untuk pindahke Lapas yang berada di daerah. Bagi saya, kemana saja tidak masalah yang penting ke daerah walaupun sebenarnya saya tidak tahu di daerah itu lebih nyaman atau tidak untuk saya pribadi. Di awal bulan Februari 2013 saya memberanikan diriuntuk mendaftar ke bagian registrasi untuk di pindah ke Lapas yang berada di daerah. Entah kekuatan dari mana keyakinan saya begitu besar untuk pindah ke daerah dengan harapan saya menemukan sesuatu yang saya cari. Waktupun berlalu dengan begitu cepat, akhirnya di bulan April 2013 ada juga operan untukke daerah Pekalongan, Jawa Tengah. Tidak ada rasa takut atauragu ketika akhirnya nama saya disebut untuk dipindah ke Lapas Pekalongan. Kawan satu kamarpun memberikan semangat dengan kepergian saya. “Hati – hati ya Bos!”, kata mereka. Saya pun hanya bisa tersenyum sambil berkata, “Saling mendoakan saja bos.” Kemudian kami dikumpulkan diruang kunjungan untuk diberangkatkan ke Lapas Pekalongan. Proses itu berjalan agak lama karena ada prosedur dan peraturan–perturan yangharus dipatuhi. Pada jam 20. 30 WIB akhirnya tiba pemberangkatan. Seperti biasa tangan dan kaki harus di rantai satu per satu untuk kemudian naik ke mobil dinas. Mobilpun meluncur ketempat yang dituju. Perjalanan ke Pekalongan memakan waktu yang cukup lama sampai berjam – jam tak ada jatah makan dan minum bahkan harus menahan kencing. Akupun bergumam, “Ya ampun!, tapi tidak apa–apa ini kan bukan berangkat tur wisata.” Akhirnya jam 08.00 WIB mobil yang saya tumpangi sampai di depan Lapas Klas IIA Pekalongan. Suasana pedesaan masih kental terasa sekali ditempat ini. Petugas yang ramah–ramah menyambut kedatangan saya. Ada satu petugas bilang dengan sedikit logat jawa, “Operan dari Jakarta napinya kok putih–putih ya!” Saya sendirihanya bisa senyum–senyum aja. Seperti biasa segala peraturan- peraturan yang berlaku dijelaskan saat itu. Kamipun memperhatikan dengan seksama walaupun terkadang mata saya melihat ke kanan dan ke kiri. Entah kenapa saat itu saya merasa tenang sekali hingga tidak ada pertanyan – pertanyaan yangmengganggu dikepala. Seminggu sudah saya berada di Lapas Pekalongan. Jujur saya sangat menikmati suasana disini karena kebebasan saya memandang langittak terhalang dengan tembok tinggi. Banyaknya kolam-kolam ikan menambah kentalnya suasana pedesaan di Lapas ini dan petugas-petugasnya cukup ramah sehingga membuat saya betah tinggal disini. Tentu saja ini satu kejutan di minggu pertama saya menghuni Lapas, saya dapat bertemu anak dan istri lagi. Kerinduan saya terasa terobati sudah, apagi ketika saya melihat putra semata wayang yang sudah bisa berjalan. Senangnya saya saat itu tidak bisa diungkapkan dengan apapun karena memang kami sudah berpisah untuk waktu yang cukup lama. Pertanyaan yang sama pun terlontar dari mulut saya ketika itu, “Bagaimana kabar anak kita sekarang, Bun?” “Seperti yang ayah lihat, dia tumbuh sehat.” “Terus bagaimana dengan susu dia?” “Bunda sekali lagi memberi dia susu kalau ada rejeki, tetapi apapun yang bunda berikan dia itu lebih dari susu nilai gizinya.” “Iya sayang,” istri saya pun tersenyum sambil mengusap kepala anak saya.Saya juga ikut tersenyum. Waktu pertemuan ini tidak kami buang sia–sia.Kemudian saya bercerita kelucuan–kelucuan yang saya rasakan selama didalam penjara. Kehangatan keluarga kecil saya sangat terasa sekali disini. Saya yakin bahwa cinta lebih kuat walaupun berada di perbatasan. Perjalanan kehidupan saya disini harus terus berlanjut.Suatu ketika diakhir bulan Mei 2013 situasi memang agak sedikit berbeda karena Lapas Pekalongan banjir. Waktu itu saya sedang menikmati nonton siaran televisi di aula blok III, tiba-tiba ada warga binaan yang berkata kepada saya,“Mas lebih baik ke masjid daripada nonton TV.“ Saya tidak begitu peduli dengan ucapan itu. Lagipula saya tidak kenal dengan orang itu. Tapi dihari kemudian saya KO karena sakit. Saya ingat terus dengan kata–kata itu dan pada akhirnya saya membuka diri untuk pergi ke masjid.Kemudian kegiatan itu akhirnya menjadi rutinitas saya untuk mengisi waktu.Sayapun kemudian diterima dengan baik menjadi seorang santri di Pondok Pesantren Darul Ulum Lapas Pekalongan. Kegiatan ponpes memang menjadi program pembinaan andalan di Lapas sampai sekarang. Satu tahun sudah saya berada di Lapas ini. Saat ini saya juga masih aktif menjadi santri. Banyak sekali ilmu –ilmu agama yang saya dapat hingga membuat saya termotivasi untuk lebih berhati–hati dalam bertindak dan berfikir. Bagi saya ini adalah sebuah pengalaman yang membuat saya kaya hati. Ternyata Tuhan melihat dan menunggu saya dari balik jendela masjid di jalan TB Simatupang hingga akhirnya Dia memberikan pembelajaran hidup yang sangat berharga untuk saya saat ini. Sumber : www.ditjenpas.go.id
Dua tahun sudah kejadian penangkapan saya, mungkin baru kali ini saya berhasil untuk mengungkapkan dari apa yang saya lihat saya dengar dan saya rasakan memang terasa lama, malas lagi untuk mengingat-ingat kembali kejadian pahit yang saya rasakan selama saya di penjara tapi saya mencoba untuk menguasai tinta dan kertas serta mengumpulan huruf demi huruf agar tersusun kata-kata yangmampu menjadikan pelajaran hidup untuk saya pribadi. Saya sekarang seorang napi dan saya berbicara dengan perasaan saya sebagai napi. Awalnya saya tidak pernah percaya bahwa saya akan menyandang status napi tapi jabatan ini telah bertahta di diri saya selama dua tahun sudah. Jelas bahwa dengan apa yang saya hadapi malam itu, ketika kepolisian mendapatkan satu satu paketan ganja hasil dari pengeledahan saya, seketika itu juga saya merasa memikul beban yang sangat berat sekali. Pertanyaan- pertanyaan menggumpal jadi satu dalam pikiran, bagaimana nasib anak dan istri? Bagaimana tentang pekerjaan? Bagaimana tanggapan keluarga? Susunan pertanyaan itulah menggambarkan betapa gundahnya hati saya. Apa yang saya rasakan waktu begitu lama dan saya rasakan makin tak stabil keadaan jiwa saya, ketika saya harus mendekam di ruang tertutup menunggu waktu waktu untuk pemeriksaan esok pagi, proses pendataan BAP pun berjalan lancar tanpa ada hambatan sedikitpun dan pada akhirnya jam 17.00 WIB saya di pindahkan ke lantai dua untuk menjadi tahanan Polres selama dua bulan. Hari-hari terasa kacau waktu itu, pernah seketika saya mendengar tangisan bayi dari layar TV yang berada di ruang penjagaan, seketika itu juga air mata saya mengalir karena teringat akan bayi kecil saya di rumah. Mungkin saya tidak harus menceritakan tentang kesedihan bagaimana saya dihantui rasa rindu yang teramat sangat akan anak dan bagaimana saya harus kehilangan pekerjaan yang seharusnya saya lakukan untuk menafkahi keluarga kecil saya. Tapi inilah kenyataan hidup dampak dari pergaulan buruk yang harus saya jalani karena saya yakin satu hal ketika seseorang memiliki nasibnya apapun itu tidak ada pilihan kecuali mengikutinya dan menerimanya. Keadaan saya sudah agak mulai stabil di bulan kedua di awal penangkapan saya. Saya masih ingat sekali nama saya disebut untukdipindahkan ke Rutan Cipinangkarena memang sudah waktunya saya meninggalkan Polres pada hari kamis pagi di bulan September 2012. Matahari semakin meninggi, cuaca panaspun semakin terasa didalam mobil yang tak ber-AC dengan tangan dan kaki terantai. Mobil dengan lambat terus menyusuri jalan menju Rutan Cipinang dengan keadaan perut yang lapar dan rasa haus yang mencekik tenggorokan ditambah dengan kemacetan Jakarta lengkap sudah penderitaan saya sebagai orang yang bermasalah di negara ini. Akhirnya rombongan operan saya sampai juga di Rutan Cipinang pada sore hari jam 16.40 WIB. Mata sayapun memandang penuh cemas, takut merasa kembali seperti awal saya tertangkap. Proses pendataanpun berjalan begitu lama hingga akhirnya saya pun mendapat giliran untuk didata di bagaian registrasi. Laksana penjahat kelas kakap saya diambil gambar dengan memegang papan nama, ini sungguh di luar cita–cita saya ketika masih kecil. Jam dinding menunjuk pukul 20.00 WIB, pendataan pun akhirnya selesai juga. “Apa kalian sudah mengerti peraturan-peraturan yang diberlakukan disini,“ tanya petugas dengan perawakan tinggi. Kami pun hanya bilang, “Sudah Pak!“ “Baiklah, cepat ratakan barisan lalukalian jongkok semua untuk menuju tempat penampungan.” Pernah suatu ketika saya mendapatkan kunjungan. Ini hari membahagiakan yang saya rasakan dari sekian banyakhari di masa–masa penangkapan saya. Sayapun berjumpa dengan anak istri yang datang jauh dari Tegal, Jawa Tengah.Mereka memang sudah memutuskan untuk pindah ke kampung halamannya dari bulan pertama saya tertangkap dengan alasan karena sudah tidak ada lagi ada yang memberikan nafkah untuk mereka tinggal dan bertahan hidup di Jakarta. Pertemuan saya dengan anak istri cukup terkesan karena tidak ada tangisan dan tidak ada kesedihan. Saya tahu istri saya adalah wanita paling kuat dalam menghadapi masalah.Namun tiba-tiba pertanyaan kecil pun terlontar dari mulut saya, “Anaknya sekarang dikasih susu apa Bun?” “Bunda cuma kasih dia teh manis.”, kata istriku datar. Sayapun terdiam sejenak menelan ludah. “Kalau makannya Bunda kasih dia apa?” “Bunda cuma cukupbuatin bubur aja setiap hari.”Saya pun hanya bisa tertunduk lesu. “Kenapa Ayah sedih?” “Nggak sedih kok Bun,” kata saya sambil menatap istri. “Ayah jangan bohong, mata ayah tuh berair,” kata istri saya sambil memandangi saya begitu lama. Pada saat itu ada satu perkataan yang keluar dari mulut istri saya yang membuat saya masih merasa kuat sampaihari ini. “Allah itu memberikan kesengsaraan di dunia itu nggak abadi Yah, beda dengan Allah memberi kesengsaraan nanti di akhirat.“ Setelah selesai dia mengucapkan kata–kata dahsyat itu, lalu saya raih jemarinya.“Terima kasih sayang.” Suasanapun berubah menjadi hangat kembali ditambah dengan tingkah laku balita saya yang tidak bisa diam pada saat itu.Sayapun mulai sedikit demi sedikit belajar mengisi hari dengan keikhlasan dengan menerima segala sesuatunya. Tanpa disadari ternyata saya sudah melewati pergantian banyak hari tapi tetap saja saya masih berdiam diri. Tak banyak yang sayalakukan dan saya masih ingat betul sampai hari ini kebiasaan saya adalah duduk sendiri dipinggir taman sambil ditemani sebatang rokok. Saya harus mengingat–ingat kembali ketika saya masih di luar hal apa yang saya lakukan hingga membuat saya di titik kehidupan yang rendah ini. Narkoba menurut saya hanya perantara untuk mengantarkan saya sampai ketempat ini. Ternyata ada yang lebih kuat lagi peristiwa yang mengantarkan saya sampai disini. Seketika itu saya ingat akan satu hal dimana sebelum tertangkap, ada satu kebiasaan saya selepas pulang kerja yaitu selalu menyempatkan diri untuk menghentikan motor pada waktu maghrib tepat di depan masjid jalan TB Simatupang. Ketika adzan berkumandang saya selalu berkata, ”Enak sekali orang– orang yang diberi kesempatan untuk mengerjakan sholat dirumah Allah.” Kata – kataitulah yang saya ucapkan setiap kali saya berada di depan masjid. Saya baru sadar inilah yang mengantarkan saya hingga sampai ketempat seperti ini. Saya fikir tidak mengambil roh dari jiwa saya tapi Tuhan mengambil sebagian hak saya agar saya berfikir bahwamakhluknya pasti diperhatikan oleh-Nya. Jujur ketika diluar sana saya sama sekali tidak menjalankan kewajiban saya sebagai muslim, yang saya pentingkan adalah urusan–urusan dunia. Tapi saya bingung harus memulai darimana agar saya bisa dekat dengan Tuhan. Beberapa bulan pun berlalu, saya masih tetap saja cari ide untukmendekati Tuhan, hingga akhirnya saya memiliki kemauan untuk pindahke Lapas yang berada di daerah. Bagi saya, kemana saja tidak masalah yang penting ke daerah walaupun sebenarnya saya tidak tahu di daerah itu lebih nyaman atau tidak untuk saya pribadi. Di awal bulan Februari 2013 saya memberanikan diriuntuk mendaftar ke bagian registrasi untuk di pindah ke Lapas yang berada di daerah. Entah kekuatan dari mana keyakinan saya begitu besar untuk pindah ke daerah dengan harapan saya menemukan sesuatu yang saya cari. Waktupun berlalu dengan begitu cepat, akhirnya di bulan April 2013 ada juga operan untukke daerah Pekalongan, Jawa Tengah. Tidak ada rasa takut atauragu ketika akhirnya nama saya disebut untuk dipindah ke Lapas Pekalongan. Kawan satu kamarpun memberikan semangat dengan kepergian saya. “Hati – hati ya Bos!”, kata mereka. Saya pun hanya bisa tersenyum sambil berkata, “Saling mendoakan saja bos.” Kemudian kami dikumpulkan diruang kunjungan untuk diberangkatkan ke Lapas Pekalongan. Proses itu berjalan agak lama karena ada prosedur dan peraturan–perturan yangharus dipatuhi. Pada jam 20. 30 WIB akhirnya tiba pemberangkatan. Seperti biasa tangan dan kaki harus di rantai satu per satu untuk kemudian naik ke mobil dinas. Mobilpun meluncur ketempat yang dituju. Perjalanan ke Pekalongan memakan waktu yang cukup lama sampai berjam – jam tak ada jatah makan dan minum bahkan harus menahan kencing. Akupun bergumam, “Ya ampun!, tapi tidak apa–apa ini kan bukan berangkat tur wisata.” Akhirnya jam 08.00 WIB mobil yang saya tumpangi sampai di depan Lapas Klas IIA Pekalongan. Suasana pedesaan masih kental terasa sekali ditempat ini. Petugas yang ramah–ramah menyambut kedatangan saya. Ada satu petugas bilang dengan sedikit logat jawa, “Operan dari Jakarta napinya kok putih–putih ya!” Saya sendirihanya bisa senyum–senyum aja. Seperti biasa segala peraturan- peraturan yang berlaku dijelaskan saat itu. Kamipun memperhatikan dengan seksama walaupun terkadang mata saya melihat ke kanan dan ke kiri. Entah kenapa saat itu saya merasa tenang sekali hingga tidak ada pertanyan – pertanyaan yangmengganggu dikepala. Seminggu sudah saya berada di Lapas Pekalongan. Jujur saya sangat menikmati suasana disini karena kebebasan saya memandang langittak terhalang dengan tembok tinggi. Banyaknya kolam-kolam ikan menambah kentalnya suasana pedesaan di Lapas ini dan petugas-petugasnya cukup ramah sehingga membuat saya betah tinggal disini. Tentu saja ini satu kejutan di minggu pertama saya menghuni Lapas, saya dapat bertemu anak dan istri lagi. Kerinduan saya terasa terobati sudah, apagi ketika saya melihat putra semata wayang yang sudah bisa berjalan. Senangnya saya saat itu tidak bisa diungkapkan dengan apapun karena memang kami sudah berpisah untuk waktu yang cukup lama. Pertanyaan yang sama pun terlontar dari mulut saya ketika itu, “Bagaimana kabar anak kita sekarang, Bun?” “Seperti yang ayah lihat, dia tumbuh sehat.” “Terus bagaimana dengan susu dia?” “Bunda sekali lagi memberi dia susu kalau ada rejeki, tetapi apapun yang bunda berikan dia itu lebih dari susu nilai gizinya.” “Iya sayang,” istri saya pun tersenyum sambil mengusap kepala anak saya.Saya juga ikut tersenyum. Waktu pertemuan ini tidak kami buang sia–sia.Kemudian saya bercerita kelucuan–kelucuan yang saya rasakan selama didalam penjara. Kehangatan keluarga kecil saya sangat terasa sekali disini. Saya yakin bahwa cinta lebih kuat walaupun berada di perbatasan. Perjalanan kehidupan saya disini harus terus berlanjut.Suatu ketika diakhir bulan Mei 2013 situasi memang agak sedikit berbeda karena Lapas Pekalongan banjir. Waktu itu saya sedang menikmati nonton siaran televisi di aula blok III, tiba-tiba ada warga binaan yang berkata kepada saya,“Mas lebih baik ke masjid daripada nonton TV.“ Saya tidak begitu peduli dengan ucapan itu. Lagipula saya tidak kenal dengan orang itu. Tapi dihari kemudian saya KO karena sakit. Saya ingat terus dengan kata–kata itu dan pada akhirnya saya membuka diri untuk pergi ke masjid.Kemudian kegiatan itu akhirnya menjadi rutinitas saya untuk mengisi waktu.Sayapun kemudian diterima dengan baik menjadi seorang santri di Pondok Pesantren Darul Ulum Lapas Pekalongan. Kegiatan ponpes memang menjadi program pembinaan andalan di Lapas sampai sekarang. Satu tahun sudah saya berada di Lapas ini. Saat ini saya juga masih aktif menjadi santri. Banyak sekali ilmu –ilmu agama yang saya dapat hingga membuat saya termotivasi untuk lebih berhati–hati dalam bertindak dan berfikir. Bagi saya ini adalah sebuah pengalaman yang membuat saya kaya hati. Ternyata Tuhan melihat dan menunggu saya dari balik jendela masjid di jalan TB Simatupang hingga akhirnya Dia memberikan pembelajaran hidup yang sangat berharga untuk saya saat ini. Sumber : www.ditjenpas.go.id
Langganan:
Postingan (Atom)






















